Entah apa yang ada di pikiran seorang wanita, sehingga terkadang kurang bisa menjangkau logika laki-laki. Kalau memang tidak merugikan orang lain, baiklah seperti itu. Misalnya saja kepada suami-nya, maka tidak baik jika suaminya yang malah menilai perempuan (istrinya) itu memiliki kekurangan. Justru seharusnya suami memahami istrinya. Tetapi, jika yang terjadi adalah hubungan yang datar hanya sebatas atasan-bawahan, atau pendidik dan peserta didik. Saya rasa akan mengakibatkan kesalahan fatal apalagi jika sampai mendatangkan pihak ketiga, wah perang dunia akan segera terjadi.
Terkadang (atau bahkan seringnya) logika wanita tertutupi oleh emosi/perasaannya. Logika wanita hampir-hampir tidak bisa mengungguli logika laki-laki. Sehingga banyak yang termakan rayuan laki-laki, wanita mengedepankan emosi/perasaan, dan jatuhlah harga dirinya.
Kebanyakan, juga pesan-pesan tidak seutuhnya diterima. Bahkan dipahami dengan persepsi yang terkadang tidak bisa ditebak oleh laki-laki. Sungguh, kekurangan (atau kelebihan) ini justru menjadi beban bagi saya. Ketidakberesan suatu hal, terkadang dipahami sebagai ancaman. Padahal kita (laki-laki) hanya ingin meluruskan keadaan. Tapi ternyata berbuah bencana.
Ceritanya begini.
Sebelum cerita ini dimulai, saya berharap dijadikan pelajaran. Baik yang tersurat ataupun tersirat.
Di semester ini, kami kuliah Metode Komputasi Matematika. Untuk bahan UTS, kami mempelajari MATLAB. Kebetulan, sewaktu kuliah S-1 saya sudah pernah belajar MATLAB walau hanya sebatas untuk numerical programming. Pengetahuan saya mengenai MATLAB saya gali kembali swaktu menulis skripsi. Skripsi saya berjudul ‘Image Compression With Singulat Value Decomposition”. Disana saya mencoba menggabungkan salah satu Applied Mathematics Concept, yaitu SVD dengan salah satu cabang dalam Ilmu Komputer, Image Processing. Skripsi saya berisi 7 BAB. BAB I berisi pendahuluan, latar belakang, metodologi, dsb. Sementara BAB II membahas landasan teori matematis (Aljabar Linear). BAB III saya menguraikan panjang lebar tentang SVD (Dekomposisi Nilai Singular). Di BAB IV saya mengutip beberapa sumber yang membahas tentang Image dan Image Processing. Penggabungan konsep SVD dan Image Compression saya berikan di BAB V. Kemudian BAB VI memberikan penyajian impelementatif dari konsep-konsep yang saya turunkan di BAB-BAB sebelumnya. Implementasinya saya menggunakan MATLAB. Di BAB VI ini pula saya merasa tidak puas dengan interface yang dimiliki MATLAB yang (sepengetahuan saya waktu itu) hanya layar putih dan tulisan hitam. Kemudian saya coba membuka-buka HELP MATLAB, dan ternyata MATLAB mendukung OOP (object oriented programming – bukan object based programming). Sepengetahuan saya, belum ada mahasiswa UGM yang membuat program MATLAB berbasis GUI, dan jadilah program saya berbentuk seperti ini:
Wah, jadi cerita tentang skripsi…. Kita lanjutkan
Tidak berhenti sampai perkuliahan, ternyata matakuliah ini juga ada praktikumnya. Dan kami mendapati asisten praktikum kami terlihat sangat cerdas. Di awal pertemuan, beliau sudah menjelaskan kepada kami tentang algoritma… Saya jadi teringat matakuliah Algoritma dan Pemrograman sewaktu S-1 dulu… Thanks buat Bapak Sri Mulyana, M.Kom yang telah mengajari saya algoritma dengan sangat baik. Saya juga merefleksikan dengan pekerjaan saya saat ini, yaitu sebagai Dosen yang mengajar matakuliah Object Oriented Programming III (Delphi II), yang menitik beratkan pada pembahasan mengenai database (thanks buat Bapak Dr. Musthofa yang telah mengajari saya tentang database dan menyemangati kami). Sebelumnya, Ibu Dosen pengampu matakuliah ini mengatakan bahwa sebelumnya praktikum yang kami lakukan adalah praktikum mandiri (tanpa asisten), dan di akhir perkuliahan saya berfikir bahwa perkatan Ibu saat itu adalah benar, lebih baik tanpa asisten.
Praktikum demi-praktikum berjalan. Pola pemberian tugas mulai terlihat jelas. Saat praktikum, asisten menayangkan ulang slide yang ditampilkan oleh Dosen pengampu pada perkuliahan sebelumnya. Di akhir slide, selalu ada serangkaian latihan-latihan yang disarankan untuk dikerjakan. Dan asisten selalu (tidak pernah never) memberikan tugas-tugas dari latihan-latihan yang diberikan oleh Dosen di slide tersebut. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengerjakan semua latihan-latihan tersebut sebelum praktikum dimulai. Sehingga saat diberikan tugas untuk dikumpulkan pekan depan, saya selalu mengumpulkannya saat itu juga karena sudah mengerjakan sebelumnya. Saya selalu membuat dua versi tugas. Pertama untuk saya sendiri, dan kedua untuk teman-teman. Terserah mau diapakan. Sebagai contoh, saat membuat program day_of_week menggunakan Zeller’s Congruence saya membuat program dengan memanfaatkan objek-objek MATLAB seperti yang saya lakukan di skripsi saya dulu. Sedangkan yang saya berikan ke teman-teman masih dalam wujud ‘asli’-nya. Entah mengapa, tugas saya yang ini hanya diberi nilai 77. Dahsyat!! Apa asisten (maaf: tidak) kurang paham dengan GUI di MATLAB? Sementara teman-teman lain sampai diberi nilai 90? Wah aneh… Sepertinya nilai tadi diberikan seperti mengocok arisan. He he he he…
Tibalah saat-nya menjelang UTS. Saya merangkum semua tugas-tugas dan latihan-latihan yang pernah diberikan lengkap dengan pembahasannya. Saya bagi-bagi menjadi bab-bab sesuai dengan urutan pertemuan. Kemudian dokumen-dokumen ini saya upload ke web-site ini untuk dipelajari. Termasuk juga script-script yang pernah saya buat, saya muat juga di web-site. Keberadaanya di internet hanya sebagai dokumentasi pribadi. Saya juga tidak pernah mau tahu apa yang akan dilakukan oleh orang lain terhadap dokumen-dokumen saya itu. Karena yang mengunjugi web-site saya juga bukan hanya teman-teman kuliah saja.
Sebuah kisah yang sangat menarik terjadi di praktikum terakhir. Waktu itu kami belajar tentang file. Asisten menjelaskan apa yang terdapat di slide dan tidak mencari referensi lain (dari Chapman misalkan). Saat itu asisten ada di samping saya sedang memperhatikan teman lain. Saya menjelaskan kegunaan file di MATLAB kepada rekan di sebelah saya. Ternyata pembicaraan saya itu didengar oleh asisten. Serta merta asisten mengutip semua kalimat yang saya sampaikan itu di depan kelas. Tanpa meminta izin, tanpa permisi, dia melakukan plagiatisme.
Setelah UTS berlangsung, saya kaget luar biasa!!! Karena mendapati nilai praktikum saya 77! Aneh bin ajaib. Sementara ada yang sampai 90?! Kejanggalan lain yang terjadi adalah beberapa mahasiswa tidak mengumpulkan tugas tetapi diberi nilai melebihi yang mengumpulkan. Kejanggalan lain, ternyata asisten tidak mengetahui siapa si A dan siapa si B. Karena asisten tidak memberikan perhatian secara merata, padahal untuk itulah asisten dibayar. Karena sewaktu saya menjadi asisten dosen juga seperti itu (mengetahui–red).
Saya mengkonfirmasi ulang, mengapa saya diberi nilai seperti itu? Jawabannya adalah karena dia (asisten) kebingungan menentukan siapa yang mengkoding sebenarnya, karena kebanyakan script sama… Muncullah pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya (yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh laki-laki). Pertama, dalam mengkoding bisa jadi terjadi persamaan. Kedua, yang paling berbahaya.. dalam kedaan bingung kenapa asisten mengambil keputusan bahwa yang mengkoding sebenarnya adalah si A. Anda (asisten) tidak bisa mengambil keputusan seperti itu, sementara Anda dalam keadaan bingung, dan Anda tidak mengetahui siapa si A dan siapa si B. Keputusan yang diambil sangat membahayakan dan merugikan orang lain. Saya mengungkapkannya demikian
“Ketidaktahuan-mu mengakibatkan ketidak adilan. Keputusan-mu melegalkan ketidakjujuran.”.
Hari berganti, saya menghadap dosen dan diminta menuliskan semua kenyataan yang terjadi. Akhirnya, diputuskan untuk melakukan ujian praktikum ulang. Dan nilai-nilai yang diberikan oleh asisten tadi tidak lagi digunakan. Benar-benar tidak digunakan, tidak berarti.
Awalnya mungkin baik-baik saja, tapi keterbatasan logika-nya mengakibatkan kekurang-puasan tanggapan yang diberikan. Saya mencoba memutar kembali logika berfikir seperti yang saya yakini. Tapi ternyata persepsi lain itu muncul, sehingga menghancurkan bangunan citra yang sedang disusun.
Sungguh, Anda (pembaca) akan merasakan sakit yang luar biasa ketika ada orang lain yang mengambil manfaat dari Anda (tanpa izin terlebih dahulu dari Anda) kemudian Anda diperlakukan dengan tidak adil. Bukankah itu suatu kedzaliman? Hati, masih sangat berat menanggung, bahkan untuk sampai memaafkan. Tetapi, saya laki-laki. Tidak mungkin saya menangis tersedu-sedu menahan perih dirasa dihati.. Biarlah kusimpan lara sendiri…dan merelakan yang terjadi.
Teman, saya tidak berkeberatan dengan nilai seperti itu, asalkan adil. Dan mohon maaf, kalian semua juga menjadi korban dari kedzhaliman ini. Tetapi, sebagai pembelajaran juga. Kebanyakn kita adalah guru, yang mencoba mengajarkan siswa-nya agar senantiasa berbuat baik. Amatlah sulit Anda berbuat adil jika Anda tidak mengetahui keadaan sebenarnya.
Teman, semoga cerita ini menginspirasi kita semua. Tentang apa yang akan kita lakukan. Semoga menjadi bahan pelajaran khususnya bagi saya sendiri.






Coolterima kasih juga saya haturkan pada pak Sri Mulyana, karena beliau Eviews yang masih awam bagi lu2san math spt saya, bs cepat sy kuasai. bahkan Dr. lulusan Cambridge yg mengajar di FE-UGM pun mengakui bhw program di Eviews yg sy buat utknya benar, sedangkan yg dia buat adl salah, (smug mode on)
terima kasih juga buat onny, yg selalu menyediakan bahan contekan, he3 memperingan kerja mhs math 01 dlm mengerjakan tugas2 kuliah n praktikum, he3
What’s an Eviews?
Onny! ada yang kamu lupakan, siapa ‘wanita’ yang kamu maksud? asisten? Dosen? ato temenmu?
Then so what dengan perempuan? bukan apa-apa Onny, ku pikir ketidaklogisan atau ketidakrasionalan (seperti yang kamu ceritakan itu, seandainya benar pelakunya adalah perempuan) tidak sepenuhnya karena ia laki-laki atau perempuan. Laki-laki punya peluang melakukan hal yang sama.
Sebab aku mengalami hal sebaliknya.
(duh malah jadi mbahas gender)
Maaf kalo aku salah menafsirkan tulisanmu.
Oya, aku dulu suka copy tugasmu, thankz ya:) penjelasan dosen sering kutinggal kabur…cari ‘ilmu’ di ‘dunia lain’. he he he
Pada banyak kejadian, biasanya wanita kurang bs menjangkau logika laki-laki. Mungkin, yang kamu alami sebalìknya itu adalah karena juga berlaku : kadang lelaki kurang bisa menghargai perasaan wanita. Akibatnya kurang bisa menerima logika simbolik wanita.
He he he, akhrnya trungkap jg. Aku br tau kalo dl sering dicontekin. Dan berlanjut skrg jg. Hiks..
di copyright-kan! (dipatenkan) aja.. disembunyiin dibawah bantal. he he he. biar ga dicontek.
apa nilai penting sebuah ‘nilai’, On?
Wah, itu nanya atau mengevaluasi?
Menurutku, nilai terpentin dari nilai adalah karena ia berharga, mencerminkan karakteristik sesuatu, juga sbg patokan untk dibandingkan dgn yg lain atau untk menentukan tinggi rendahnya derajat seseorang atas sesuatu.
Tentunya sudut pandangku adl kualitatif. Dari sisi normatif, kadang jg ga berlaku.
Friend, aku tidak berkomentar tentang praktikum, kuliah, nilai dan sejenisnya. Ini cuma pendapat mengenai otak kiri dan otak kanan. Dalam beberapa hal otak kiri memang melaju pesat dalam berfikir tentang suatu hal, biasanya yang prosedural, terurut, nampak dan jelas (real). Kebanyakan laki-laki menang di sini.
Sedangkan otak kanan bekerja untuk seni, hal yang abstrak, jauh, tidak urut dan kurang jelas. Kebanyakan orang menyebut otak kanan sebagai perasaan. Kelebihan otak kanan adalah mampu bekerja pada objek yang tidak urut, jauh dan abstrak. Kalau otak kiri menyimpulkan paragraf berdasarkan kalimat demi kalimat, ia menyimpulkan berdasarkan isyarat tertentu, yang terkadang otak kiri nggak ngerti. Kebanyakan wanita mengandalkan otak kanan, makanya aku juga sering nggak ngerti (dulu). Basisku kiri, tapi aku sedang belajar basis kanan, biar punya 2 basis dual, ya nggak? Sumbernya ya cuma dari agama, dari anak kecil, dari benda mati, dari sejarah para nabi dan dari alam semesta.
He he, ini sekedar iseng, daripada BETE belajar LAPLACE dan POISSON.
Thanks atas masukannya…
Tulisan di atas, juga tidak menyinggung tentang nilai (saja), lebih dari itu semua, ada banyak kejadian yang perlu kita pelajari dan pengalaman dan kesalahan orang atau bahkan diri sendiri.
Btw, oke juga ide untuk mempelajari basis lain agar memiliki dua basis. Dan memang eksistensi basis pada suatu ruang tidak tunggal. Kita bisa mengkonstruksi basis lain, yang juga bebas secara linear dari basis yang lainnya. Akan tetapi, tetaplah memiliki dimensi yang sama, yakni dimensi keterbatasan manusia.