Uncategorized

Daftar Nilai UAS Pendidikan Lingkungan Hidup Tahun 2009/2010

JURUSAN : PGMI
KELAS : A
SMT : IV

No. Urut NIM BENAR SKOR NILAI KET.
1 082700044 12 12 46.15
2 082700045 8 8 30.77
3 082700046 5 5 19.23
4 082700047 9 9 34.62
5 082700048 14 14 53.85
6 082700049 11 11 42.31
7 082700050 14 14 53.85
8 082700051 10 10 38.46
9 082700052 13 13 50.00
10 082700053 10 10 38.46
11 082700054 6 6 23.08
12 082700055 14 14 53.85
13 082700056 10 10 38.46
14 082700057 10 10 38.46
15 082700060 7 7 26.92
16 082700061 6 6 23.08
17 082700062 12 12 46.15
18 082700063 7 7 26.92
19 082700064 10 10 38.46
20 082700065 9 9 34.62
21 082700067 23 23 88.46
22 082700068 9 9 34.62
23 082700069 8 8 30.77
24 082700070 9 9 34.62
25 082700071 4 4 15.38
26 082700072 9 9 34.62
27 082700073 16 16 61.54
28 082700074 10 10 38.46
29 082700075 8 8 30.77
JUMLAH : 1126.92
TERKECIL : 15.38
TERBESAR : 88.46
RATA-RATA : 38.86
SIMPANGAN BAKU : 14.51

JURUSAN : PGMI
KELAS : B
SMT : IV

No. Urut NIM BENAR SKOR NILAI KET.
1 082700076 23 23 88.46 Terindikasi
2 082700077 23 23 88.46 bekerja sama
3 082700080 21 21 80.77
4 082700081 23 23 88.46
5 082700082 13 13 50.00
6 082700083 7 7 26.92
7 082700084 14 14 53.85
8 082700085 6 6 23.08
9 082700086 24 24 92.31
10 082700087 10 10 38.46
11 082700088 14 14 53.85
12 082700089 20 20 76.92
13 082700090 8 8 30.77
14 082700091 22 22 84.62
15 082700092 19 19 73.08
16 082700093 15 15 57.69
17 082700094 12 12 46.15
18 082700095 21 21 80.77
19 082700096 25 25 96.15 idem
20 082700097 18 18 69.23
21 082700098 8 8 30.77
22 082700099 23 23 88.46
23 082700100 22 22 84.62
24 082700103 11 11 42.31
25 082700105 10 10 38.46
26 082700106 19 19 73.08
27 082700107 25 25 96.15 idem
JUMLAH : 1753.85
TERKECIL : 23.08
TERBESAR : 96.15
RATA-RATA : 64.96
SIMPANGAN BAKU : 23.86

JURUSAN : PGMI
KELAS : C
SMT : IV

No. Urut NIM BENAR SKOR NILAI KET.
1 082700108 12 12 46.15
2 082700109 10 10 38.46
3 082700110 11 11 42.31
4 082700111 9 9 34.62
5 082700112 13 13 50.00
6 082700113 9 9 34.62
7 082700114 12 12 46.15
8 082700115 14 14 53.85
9 082700116 14 14 53.85
10 082700117 12 12 46.15
11 082700118 8 8 30.77
12 082700119 12 12 46.15
13 082700120 11 11 42.31
14 082700121 15 15 57.69
15 082700122 8 8 30.77
16 082700123 18 18 69.23
17 082700124 9 9 34.62
18 082700125 9 9 34.62
19 082700126 9 9 34.62
20 082700127 9 9 34.62
21 082700128 14 14 53.85
22 082700129 12 12 46.15
23 082700130 8 8 30.77
24 082700131 12 12 46.15
25 082700132 11 11 42.31
26 082700133 15 15 57.69
27 082700134 9 9 34.62
28 082700135 11 11 42.31
29 082700136 12 12 46.15
30 082700137 6 6 23.08
31 082700138 9 9 34.62
32 082700139 12 12 46.15
JUMLAH : 1365.38
TERKECIL : 23.08
TERBESAR : 69.23
RATA-RATA : 42.67
SIMPANGAN BAKU : 9.88

Entah apa yang ada di pikiran seorang wanita

Entah apa yang ada di pikiran seorang wanita, sehingga terkadang kurang bisa menjangkau logika laki-laki. Kalau memang tidak merugikan orang  lain, baiklah seperti itu. Misalnya saja kepada suami-nya, maka tidak baik jika suaminya yang malah menilai perempuan (istrinya) itu memiliki kekurangan. Justru seharusnya suami memahami istrinya. Tetapi, jika yang terjadi adalah hubungan yang datar hanya sebatas atasan-bawahan, atau pendidik dan peserta didik. Saya rasa akan mengakibatkan kesalahan fatal apalagi jika sampai mendatangkan pihak ketiga, wah perang dunia akan segera terjadi.

Terkadang (atau bahkan seringnya) logika wanita tertutupi oleh emosi/perasaannya. Logika wanita hampir-hampir tidak bisa mengungguli logika laki-laki. Sehingga banyak yang termakan rayuan laki-laki, wanita mengedepankan emosi/perasaan, dan jatuhlah harga dirinya.

Kebanyakan, juga pesan-pesan tidak seutuhnya diterima. Bahkan dipahami dengan persepsi yang terkadang tidak bisa ditebak oleh laki-laki. Sungguh, kekurangan (atau kelebihan) ini justru menjadi beban bagi saya. Ketidakberesan suatu hal, terkadang dipahami sebagai ancaman. Padahal kita (laki-laki) hanya ingin meluruskan keadaan. Tapi ternyata berbuah bencana.

Ceritanya begini.
Sebelum cerita ini dimulai, saya berharap dijadikan pelajaran. Baik yang tersurat ataupun tersirat.
Di semester ini, kami kuliah Metode Komputasi Matematika. Untuk bahan UTS, kami mempelajari MATLAB. Kebetulan, sewaktu kuliah S-1 saya sudah pernah belajar MATLAB walau hanya sebatas untuk numerical programming. Pengetahuan saya mengenai MATLAB saya gali kembali swaktu menulis skripsi. Skripsi saya berjudul ‘Image Compression With Singulat Value Decomposition”. Disana saya mencoba menggabungkan salah satu Applied Mathematics Concept, yaitu SVD dengan salah satu cabang dalam Ilmu Komputer, Image Processing. Skripsi saya berisi 7 BAB. BAB I berisi pendahuluan, latar belakang, metodologi, dsb. Sementara BAB II membahas landasan teori matematis (Aljabar Linear). BAB III saya menguraikan panjang lebar tentang SVD (Dekomposisi Nilai Singular). Di BAB IV saya mengutip beberapa sumber yang membahas tentang Image dan Image Processing. Penggabungan konsep SVD dan Image Compression saya berikan di BAB V. Kemudian BAB VI memberikan penyajian impelementatif dari konsep-konsep yang saya turunkan di BAB-BAB sebelumnya. Implementasinya saya menggunakan MATLAB. Di BAB VI ini pula saya merasa tidak puas dengan interface yang dimiliki MATLAB yang (sepengetahuan saya waktu itu) hanya layar putih dan tulisan hitam. Kemudian saya coba membuka-buka HELP MATLAB, dan ternyata MATLAB mendukung OOP (object oriented programming – bukan object based programming). Sepengetahuan saya, belum ada mahasiswa UGM yang membuat program MATLAB berbasis GUI, dan jadilah program saya berbentuk seperti ini:

SVD

SVD

Wah, jadi cerita tentang skripsi…. Kita lanjutkan
Tidak berhenti sampai perkuliahan, ternyata matakuliah ini juga ada praktikumnya. Dan kami mendapati asisten praktikum kami terlihat sangat cerdas. Di awal pertemuan, beliau sudah menjelaskan kepada kami tentang algoritma… Saya jadi teringat matakuliah Algoritma dan Pemrograman sewaktu S-1 dulu… Thanks buat Bapak Sri Mulyana, M.Kom yang telah mengajari saya algoritma dengan sangat baik. Saya juga merefleksikan dengan pekerjaan saya saat ini, yaitu sebagai Dosen yang mengajar matakuliah Object Oriented Programming III (Delphi II), yang menitik beratkan pada pembahasan mengenai database (thanks buat Bapak Dr. Musthofa yang telah mengajari saya tentang database dan menyemangati kami). Sebelumnya, Ibu Dosen pengampu matakuliah ini mengatakan bahwa sebelumnya praktikum yang kami lakukan adalah praktikum mandiri (tanpa asisten), dan di akhir perkuliahan saya berfikir bahwa perkatan Ibu saat itu adalah benar, lebih baik tanpa asisten.

Praktikum demi-praktikum berjalan. Pola pemberian tugas mulai terlihat jelas. Saat praktikum, asisten menayangkan ulang slide yang ditampilkan oleh Dosen pengampu pada perkuliahan sebelumnya. Di akhir slide, selalu ada serangkaian latihan-latihan yang disarankan untuk dikerjakan. Dan asisten selalu (tidak pernah never) memberikan tugas-tugas dari latihan-latihan yang diberikan oleh Dosen di slide tersebut. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengerjakan semua latihan-latihan tersebut sebelum praktikum dimulai. Sehingga saat diberikan tugas untuk dikumpulkan pekan depan, saya selalu mengumpulkannya saat itu juga karena sudah mengerjakan sebelumnya. Saya selalu membuat dua versi tugas. Pertama untuk saya sendiri, dan kedua untuk teman-teman. Terserah mau diapakan. Sebagai contoh, saat membuat program day_of_week menggunakan Zeller’s Congruence saya membuat program dengan memanfaatkan objek-objek MATLAB seperti yang saya lakukan di skripsi saya dulu. Sedangkan yang saya berikan ke teman-teman masih dalam wujud ‘asli’-nya. Entah mengapa, tugas saya yang ini hanya diberi nilai 77. Dahsyat!! Apa asisten (maaf: tidak) kurang paham dengan GUI di MATLAB? Sementara teman-teman lain sampai diberi nilai 90? Wah aneh… Sepertinya nilai tadi diberikan seperti mengocok arisan. He he he he…

Tibalah saat-nya menjelang UTS. Saya merangkum semua tugas-tugas dan latihan-latihan yang pernah diberikan lengkap dengan pembahasannya. Saya bagi-bagi menjadi bab-bab sesuai dengan urutan pertemuan. Kemudian dokumen-dokumen ini saya upload ke web-site ini untuk dipelajari. Termasuk juga script-script yang pernah saya buat, saya muat juga di web-site. Keberadaanya di internet hanya sebagai dokumentasi pribadi. Saya juga tidak pernah mau tahu apa yang akan dilakukan oleh orang lain terhadap dokumen-dokumen saya itu. Karena yang mengunjugi web-site saya juga bukan hanya teman-teman kuliah saja.

Sebuah kisah yang sangat menarik terjadi di praktikum terakhir. Waktu itu kami belajar tentang file. Asisten menjelaskan apa yang terdapat di slide dan tidak mencari referensi lain (dari Chapman misalkan). Saat itu asisten ada di samping saya sedang memperhatikan teman lain. Saya menjelaskan kegunaan file di MATLAB kepada rekan di sebelah saya. Ternyata pembicaraan saya itu didengar oleh asisten. Serta merta asisten mengutip semua kalimat yang saya sampaikan itu di depan kelas. Tanpa meminta izin, tanpa permisi, dia melakukan plagiatisme.

Setelah UTS berlangsung, saya kaget luar biasa!!! Karena mendapati nilai praktikum saya 77! Aneh bin ajaib. Sementara ada yang sampai 90?! Kejanggalan lain yang terjadi adalah beberapa mahasiswa tidak mengumpulkan tugas tetapi diberi nilai melebihi yang mengumpulkan. Kejanggalan lain, ternyata asisten tidak mengetahui siapa si A dan siapa si B. Karena asisten tidak memberikan perhatian secara merata, padahal untuk itulah asisten dibayar. Karena sewaktu saya menjadi asisten dosen juga seperti itu (mengetahui–red).

Saya mengkonfirmasi ulang, mengapa saya diberi nilai seperti itu? Jawabannya adalah karena dia (asisten) kebingungan menentukan siapa yang mengkoding sebenarnya, karena kebanyakan script sama… Muncullah pertanyaan-pertanyaan dalam diri saya (yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh laki-laki). Pertama, dalam mengkoding bisa jadi terjadi persamaan. Kedua, yang paling berbahaya.. dalam kedaan bingung kenapa asisten mengambil keputusan bahwa yang mengkoding sebenarnya adalah si A. Anda (asisten) tidak bisa mengambil keputusan seperti itu, sementara Anda dalam keadaan bingung, dan Anda tidak mengetahui siapa si A dan siapa si B. Keputusan yang diambil sangat membahayakan dan merugikan orang lain. Saya mengungkapkannya demikian

“Ketidaktahuan-mu mengakibatkan ketidak adilan. Keputusan-mu melegalkan ketidakjujuran.”.

Hari berganti, saya menghadap dosen dan diminta menuliskan semua kenyataan yang terjadi. Akhirnya, diputuskan untuk melakukan ujian praktikum ulang. Dan nilai-nilai yang diberikan oleh asisten tadi tidak lagi digunakan. Benar-benar tidak digunakan, tidak berarti.

Awalnya mungkin baik-baik saja, tapi keterbatasan logika-nya mengakibatkan kekurang-puasan tanggapan yang diberikan. Saya mencoba memutar kembali logika berfikir seperti yang saya yakini. Tapi ternyata persepsi lain itu muncul, sehingga menghancurkan bangunan citra yang sedang disusun.

Sungguh, Anda (pembaca) akan merasakan sakit yang luar biasa ketika ada orang lain yang mengambil manfaat dari Anda (tanpa izin terlebih dahulu dari Anda) kemudian Anda diperlakukan dengan tidak adil. Bukankah itu suatu kedzaliman? Hati, masih sangat berat menanggung, bahkan untuk sampai memaafkan. Tetapi, saya laki-laki. Tidak mungkin saya menangis tersedu-sedu menahan perih dirasa dihati.. Biarlah kusimpan lara sendiri…dan merelakan yang terjadi.

Teman, saya tidak berkeberatan dengan nilai seperti itu, asalkan adil. Dan mohon maaf, kalian semua juga menjadi korban dari kedzhaliman ini. Tetapi, sebagai pembelajaran juga. Kebanyakn kita adalah guru, yang mencoba mengajarkan siswa-nya agar senantiasa berbuat baik. Amatlah sulit Anda berbuat adil jika Anda tidak mengetahui keadaan sebenarnya.

Teman, semoga cerita ini menginspirasi kita semua. Tentang apa yang akan kita lakukan. Semoga menjadi bahan pelajaran khususnya bagi saya sendiri.


Kumpulan Awan Membentuk Sepasang Mata saat Terjadi Gempa

Beberapa waktu lalu, Indonesia kembali dikejutkan dengan gempa yang melanda Sumatera Barat berkekuatan 7,3 pada Skala Richter. Namun, diantara kejutan yang memilukan tersebut, sempat terekam dalam kamera yang saya dapat-kan dari salah seorang rekan di Padang, bahwa saat terjadi gempa terlihat di langit sekumpulan awan yang membentuk sepasang mata dengan pandangan marah. Untuk lebih jelas-nya, Anda dapat mengunduh video tersebut di sini.

Tragedi_gempa.3gp


Memerangi Teroris

Saya awali tulisan ini dengan tiga buah cerita. Pertama, tahun ini adalah Ramadhan pertama saya di komplek perumahan yang baru saja saya tempati sebelas bulan lalu. Ritualitas yang dilakukan oleh warga sekitar saat bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (salah satunya). Setelah delapan rakaat diselesaikan dengan empat kali salam, tiba saatnya melakukan witir. Saya agak kaget, ketika sang bilal mengajak jamaah untuk shalat witir dua rakaat kemudian disambung kembali dengan satu rakaat, jadi dua kali salam. Setelah shalat witir selesai, saya menghampiri seorang kasepuhan di komplek ini. Saya menanyakan perihal makna witir yang artinya ganjil. Jadi agak aneh diserukan untuk shalat ganjil tetapi dua rakaat. Sang bapak menjelaskan bahwa dalam penyeruan tersebut, ditambahkan kata ‘minal’ yang artinya sebagian dari witir. Saya kurang puas, dan di rumah saya mencari referensi yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat witir yang menurut saya masih baru itu. Kemudian saya menemukannya di buku ’165 Kebiasaan Nabi’, karangan Abdullah Akaha (yang oleh beberapa kalangan sering menyisipkan hadits dha’if), haditsnya diriwayatkan dari Aisyah RA. Tapi, tak apalah, yang penting ada dasarnya. Saya belum mencarinya di kumpulan shahih bukhari atau muslim.

Kedua, saya agak heran dengan aktivitas berjabatan tangan yang dilakukan oleh jamaah shalat berjamaah setelah selesai salam. Bahkan, ada yang sampai membalikkan badannya untuk menjangkau jamaah yang ada di sekitarnya, dan kemudian bersalaman. Saya belum menemukan referensi yang membolehkan hal tersebut. Bahkan, yang saya temukan adalah pengharaman akan hal tersebut, dengan landasan sesuatu yang baik belum tentu benar. Karena, yang pertama kali harus dilakukan setelah selesai shalat fardlu adalah beristigfar bukan bersalaman. Dan istigfar (permohonan ampun) seseorang kepada Tuhannya akan kehilangan makna jika dibarengi dengan aktivitas lainnya. Jadi tidak bermakna istighfarnya, hanya sebatas bacaan tanpa disadari maksudnya.

Ketiga, tentang bacaan do’a qunut. Yang saya pertanyakan bukan membaca atau tidak membaca qunutnya. Saya telah menemukan referensinya mengenai dua hal itu. Yang menjadi bahan kritik saya adalah, saya belum menemukan referensi tentang bacaan qunut tersebut apakah dibaca jelas, atau dibaca pelan? Bahkan, sang imam mengkombinasikan cara pembacaan tersebut dengan memenggal pada beberapa bagian, baik awal ataupun akhir dari doa tersebut. Alangkah kreatifnya imam-imam kita ini.

Ketiga cerita tersebut, hanya ingin menyampaikan tentang sikap saya dalam menanggapi sesuatu yang baru terutama yang berkaitan dengan konsep dalam agama yang saya yakini, Islam. Dalam Islam, semua perbuatan harus dilandasi dengan ilmu. Bukan sok tahu, atau ikut-ikutan. Karena semuanya akan dimintai pertanggung jawaban. Belakangan ini marak, pemuda-pemuda yang dijadikan sebagai pengantin oleh para teroris untuk melakukan bom bunuh diri. Mereka diberikan pengertian mengenai jihad dan menerima pengertian tersebut tanpa menggunakan alur berpikir yang saya sebutkan di atas. Oleh karenanya, ketika ada orang-orang yang memberikan konsep tentang apapun, harus ditanggapi dengan logis dan berdasar pada sumber-sumber yang shahih.

Jika dimaknakan jihad adalah berperang (qital), lalu mengapa ada dua kata tersebut? Jika demikian, bagaimana pahala jihad bisa dirasakan oleh wanita dan lansia? Sedangkan kata ‘jihad’ sendiri dalam bahasa arab berasal dari kata ‘ja ha da’. Yang juga bisa berarti bersungguh-sungguh. Orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan ibadah, disebut mujtahid. Pengambilan keputusan dengan bersungguh-sungguh menetapi sunnah dan al-qur’an disebut dengan ijtihad. Semuanya berasal dari akar kata yang sama.

Baiklah jika memang bersikeras bahwa jihad adalah qital. Tetapi, qital berbeda maknanya dengan bunuh diri. Sedangkan makna qital sendiri adalah “yuqtal aw yuglib” membunuh atau terbunuh, bukan bunuh diri. Kemudian, jika memang benar berperang, lalu siapa yang diperangi? Apakah bom bunuh diri memenuhi kaidah atau etika-etika dalam berperang. Perang dalam Islam tidak diperbolehkan membuhuh wanita, dan orang-orang yang tidak berperang. Tetapi, yang terjadi dalam bom bunuh diri, tidak hanya objeknya yang terkena, melainkan sampai juga pada orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan objek pemboman tersebut menjadi korban. Lalu, alasan logis bagimana yang bisa diterima untuk membenarkan pernyataan ini??

Saudaraku, Islam itu indah dan damai… Sebagaimana makna secara bahasa dari kata ‘islam’ itu sendiri… Semoga dengan uraian sederhana ini, kita bisa lebih kritis dalam menyikapi sesuatu yang baru. Kita tengah diadu domba. Orang-orang busuk yang mengobarkan peperangan tersebut, menjadikan Islam sebagai topeng. Yang memang tujuannya adalah agar Islam terkubur oleh orang Islam sendiri. Berhati-hatilah, bersama-sama kita perangi terorisme dalam bentuk apapun.


  • Al Qur’an

  • Get 4Shared Premium!
  • Portal Akademik

  • Copyright © 1996-2010 Khaeroni.Net :: Tiny. All rights reserved.
    iDream theme by Templates Next | Powered by WordPress