Tag: Hikmah

Puisi Pa Habibie

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ADA pasti menjadi TIADA pada akhirnya
Dan kematian adalah sesuatu yang PASTI,
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
Aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku TERSENTAK sedemikian HEBAT,
Adalah kenyataan bahwa KEMATIAN …
Benar-benar dapat MEMUTUSKAN KEBAHAGIAAN dalam diri seseorang,
SEKEJAP saja…
Lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
Hatiku seperti tak di tempatnya,
Dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini,
Aku selipkan salam perpisahan panjang,
Pada kesetiaan yang telah kau ukir,
Pada kenangan pahit manis selama kau ada,
Aku bukan hendak mengeluh,
Tapi rasanya TERLALU SEBENTAR kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
Tanpa mereka sadari,
Bahwa KAULAH yang MENJADIKAN aku KEKASIH yang BAIK
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
Tapi kau AJARKAN aku KESETIAAN, sehingga aku SETIA,
Kau AJARKAN aku ARTI CINTA, sehingga aku mampu MENCINTAIMU seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang,
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan,
CALON BIDADRI Surgaku ….

BJ. HABIBIE


Harapan Itu Masih Ada

By: OFA

Di dalam kamar yang gelap gulita, Ada 4 lilin yang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang PERTAMA berkata:

“Aku adalah DAMAI… Namun manusia tak mampu menjagaku, Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”

Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam. Yang KEDUA berkata:

“ Aku adalah IMAN… Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, Untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”

Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya. Dengan sedih giliran Lilin KETIGA bicara:

“ Aku adalah CINTA… Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci… Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”

Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga. Tanpa terduga… Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:

“Apa yang terjadi?! Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu. Lalu dengan terharu Lilin KEEMPAT berkata:

“Jangan takut…  Janganlah menangis… Selama aku masih ada dan menyala, Kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: Karena Akulah … HARAPAN”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin HARAPAN, Lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak boleh mati hanyalah ASA yang ada dalam hati kita…. Dan ASA itu akan tetap ada selama kita BERSAMA Sang PENCIPTA ……..PENGUASA ALAM SEMESTA

“ …Dan janganlah BERPUTUS ASA dari RAHMAT Allah, Sesungguhnya yang tiada BERPUTUS ASA dari RAHMAT Allah melainkan kaum yang KAFIR” (QS. Yusuf :87)


HIDUPKAN JIWAMU

Oleh : Bulan Cahaya

Semua perjalanan adalah perjalanan kejiwaan
Kehidupanmu adalah kehidupan jiwamu
Kita semua adalah jiwa yang sedang hidup dalam raga
Kita tumbuh dari jiwa mulia yang suci
Untuk Jiwa yang damai di dalam diri yang baik dan cemerlang

Kehidupan adalah kehidupan jiwamu
Jiwamu lah yang menjadikan dirimu agar menjadi seseorang

Hatimu adalah wajah dari jiwamu
Maka kenakanlah wajah terbaik dari jiwamu
Agar kehidupan memperlakukanmu dengan indah
Yang tumbuh dari jiwa yang rupawan

Jadikan dirimu menjadi kerinduan jiwamu
Jadikan kesadaran sebagai warna kekuatan dan kesabaran
Jadikan keikhlasan sebagai kekuatan dari pekerjaanmu
Jadikan Keberserahan sebagai kekuatan penantian hasilmu

Didalam kecanggihan pikiran dan kepekaan rasa
Engkau menukar kekuatan dengan ketakutan
Kenikmatan apa lagikah yang masih kau pertahankan dari rasa takutmu?

Berkasih sayanglah kau pada dirimu
Dia… Dirimu, mungkin banyak berteman
Tetapi sebetulnya dia sendiri…

Dia mungkin banyak melantunkan canda dan tawa untuk orang lain
Tetapi sebetulnya dia tersiksa dengan kelambanan hidupnya sendiri

Dia mungkin banyak menghibur orang lain…
Tetapi sebenarnya dia bersedih dalam kesepian jiwanya

Duduk dan berbincanglah dengan-Nya
Yang Maha Rahman , Yang Maha Pengasih

Hidupkanlah jiwamu
Jangan lah lemah dalam hidupmu
Hidup itu harus kuat, tegar, hebat, luas dan bermanfaat
Yang sederhana itu adalah sikapnya

Muliakanlah dirimu, hidupkanlah jiwamu
Tempatkanlah kesedihan itu pada posisinya…
Kesedihan dalam urusan dunia dapat menggelapkan hati
Kesedihan dalam urusan akhirat bisa menerangi hati

Orang yang mulia tidak akan durhaka pada Allah
Orang yang bijaksana tidak akan memilih dunia
dengan meninggalkan akhirat

Bersikap simpatik dengan orang lain
adalah bagian dari kecerdasan akal

Bertanya dengan cara yang baik
adalah bagian dari ilmu

Dan kepandaian memanage
adalah bagian dari penghidupan

Maka hidupkanlah jiwa duniamu
untuk kehidupan jiwa akhiratmu
Dan hiduplah dalam limpahan Cinta yang berkah

***
Barangsiapa yang menjauhi keduniawian
niscaya akan dicintai Allah

Barangsiapa yang menjauhi dosa-dosa
niscaya akan dicintai malaikat

Barangsiapa yang meninggalkan ketamakan terhadap milik orang lain
niscaya akan dicintai orang lain


SEBUAH PERENUNGAN

Oleh: Laila Nurul Muna

Wahai sahabat …

Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan
dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun,
bahkan sepanjang usia kita ?.

Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong,
lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan,
kira-kira, apa yang terjadi ?

Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk
kotak lagi,  karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

Bukankah kita seringkali mendahulukan pekerjaan
pada saat adzan memanggil,
dan membiarkan mesjid kosong sehari-harinya,

Bukankah kita pernah menahan  orang miskin ?
Menghitung-hitung apa yang kita punya,
namun seringkali sulit untuk berbagi
kepada mereka yang membutuhkan,

Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling
pintar dari orang lain, ta’adjub, riya, sombong, marah
yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, hebat, dan
tinggi dari orang lain ?

Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki
kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia lainnya ?

Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang
meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang
dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya ?.

Bukanlah sering kita mengecewakan orang tua kita,
pasangan kita, anak-anak kita atau orang -orang terdekat kita,

Daftar ini akan bisa semakin panjang dan panjang bila
diteruskan…

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Allah SWT berfirman dalam surat Az Zumar ( 39 : 53 )

” Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus
asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya ( kecuali syirik ). Sesungguhnya
Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang. ”

Indah benar ayat ini,
Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran,
namun tidak diikuti kalimat yang berbau murka.
Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa
dari rahmat (kasih saying) Allah.
Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh tadi
dengan bertaubat kepadaNya.
Kita kembalikan kotak itu seperti keadaannya semula,
kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang fitri dan bersih.

Jika kita punya onta lengkap dengan segala
perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang,
bukankah kita sedih?

Bagaimana pula jika onta itu tiba-tiba kembali
berjalan menuju kita lengkap dengan segala perbekalannya,
bukankah kita merasa bahagia ?

Rasulullah SAW bersabda :
daripada kembalinya onta yang hilang dan perbekalannya,
“Ketahuilah Allah akan lebih senang lagi melihat hambaNya
yang berlumuran dosa bertaubat dan kembali kepadaNya”.

Allah berfirman : ” Kembalilah kamu kepada Tuhanmu,
dan berserah dirilah padaNya, sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi “.
(Q. S. 39 : 54 )

Seperti onta yang sesat jalan, dan mungkin telah
tenggelam didasar lautan samudra, mengapa kita tak
berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis
di ” kaki kebesaranNya “, mengakui kesalahan kita, dan
memohon ampunanNya.

————————-

Ya Rabb .. Engkaulah yang Maha menggenggam hati kami …
Engkaulah yang Maha membukakan pintu hikmah bagi kami …
Engkaulah yang Maha pengampun atas banyaknya dosa2 kami …
Hanya kepadaMulah kami bersandar …
Hanya kepadaMulah kami memohon ampun dan pertolongan …
Hanya kepadaMulah sepenuhnya kami berserah diri …
Ya Dzat yang Maha Besar …
Rahmatilah kami , ridhoilah kami,
Masukkanlah kami ke dalam golongan orang2 yang beruntung
dan yang Engkau cintai …
Berikanlah kami nikmat iman yang semakin baik ,
dan terbaik pada penghujung umur kami ..
Ya Rabb, Ya Malikul Mulki, Ya Dzal jalaali wal ikram …


Andaikata Lebih Panjang Lagi……Andaikata Yang Masih Baru..…. Andaikata Semuanya…….

Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.

Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai.

Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.

Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”

Istrinya menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”

“Apa yang di katakannya?”

“Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, suami saya mengatakan
“Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..…. andaikata semuanya…….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”

Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.

Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.

Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.

Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.

Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan,”Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.

Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Sabahat Hikmah, orang yang BERAMAL BAIK saja dia MENYESAL di AKHIR HAYATNYA, bagaimanakah dengan orang yang selama hidupnya BERAMAL BURUK?

Allah berfirman:
“Jika kamu BERBUAT BAIK (berarti) kamu berbuat baik BAGI DIRIMU SENDIRI i dan jika kamu BERBUAT JAHAT, Maka (kejahatan) itu BAGI DIRIMU SENDIRIi”. (Al-Isra:7)

Sumber: Rumah Yatim Indonesia silahkan klik http://www.rumah-yatim-indonesia.org


  • Al Qur’an

  • Get 4Shared Premium!
  • Portal Akademik

  • Copyright © 1996-2010 Khaeroni.Net :: Tiny. All rights reserved.
    iDream theme by Templates Next | Powered by WordPress